Train or Bus?

Fuh fuh fuuuh, bersihin debu di blog yang udah lama terbengkalai 🙂

Kali ini mau nyeritain sedikit pengalaman naik kereta dan bus saat berkunjung ke rumah mbah yang berlokasi di Situbondo Jatim dan juga pulang ke Bandung lagi, berhubung kemarin waktu searching di mbah Google sedikit informasi yang tersedia.

Bismillahirrahmanirrahim

Sekitar pertengahan Desember 2016 saya dan keluarga mudik ke rumah mbah di Situbondo, Jawa Timur, beberapa tahun belakangan kami mudik 2 kali dalam setahun dikarenakan kondisi nenek yang terus menurun. Kami memutuskan untuk naik bus dari Cimahi menggunakan armada Pahala Kencana, biasanya kami mudik menggunakan kendaraan pribadi dengan papa sebagai sopir tunggal, namun papa sedang dinas dan saya belum diizinkan untuk menjadi sopir dengan jarak perjalanan sejauh itu. Mengapa naik bus? Karena kami turun tepat di depan rumah mbah, kalau naik kereta kami harus turun di stasiun Malang dan melanjutkan dengan menggunakan Travel atau Bus umum, dimana kami harus naik, mengangkut dan menurunkan barang setiap pindah kendaraan, dengan harga yang tidak jauh berbeda.

Bus Pahala Kencana ini tujuan akhirnya adalah Bali harganya Rp 510.000 namun karena kami turun di Situbondo harganya menjadi Rp 450.000, harga ini naik dikarenakan bertepatan dengan libur anak sekolah, libur natal dan tahun baru. Bagi yang berdomisili di Cimahi bisa naik di dekat Cimahi Mall, itutuh yang banyak jualan bunga seberang shelter Explore (bus yang menuju Jatinangor). Jika tidak diberi tiket saat membayar, dan hanya diberi kwitansi, jangan lupa meminta kupon makan saat hendak berangkat ya. Berangkat pukul 14.00 WIB dari Jl. RE Martadinata (RIAU) No 146 no. telp: 022-7104666, 7231432. Di awal keberangkatan, tiap penumpang diberi roti dan botol air mineral. Kupon makan hanya dapat satu untuk tiap orang, digunakan saat makan malam, masih di wilayah Jawa Barat, namun saya lupa nama daerahnya, sekitar jam 7 malam. Makan kedua, di pagi keesokan harinya sekitar jam 8 di wilayah Jawa Tengah, yang ini menggunakan dana pribadi ya alias bayar sendiri. Makan ketiga di wilayah Pasir Putih, Jawa timur sekitar jam setengah dua siang, gratiiis meskipun tanpa kupon.

Saat masih di Jawa Barat, bus memang akan banyak berhenti mengangkut orang dan barang di shelter yang berbeda, tak jarang tukang jualan makanan, minuman maupun barang seperti powerbank masuk menjajakan jualannya. Di pemberhentian makan yang pertama, makanan tersaji prasmanan dengan menu nasi, mie goreng, telur, sayur sop, kerupuk dan teh hangat, tidak ada pilihan lain, karena rumah makan ini tidak menawarkan menu lain meskipun kita akan membayar, mungkin sudah masuk jam tutup, saya juga kurang tahu, lebih baik menyiapkan bekal sebelum berangkat jika ingin menu lain. Di pemberhentian makan yang kedua akan lebih banyak pilihan makanan dan minuman, jangan lupa bayar sendiri yaa.. Di pemberhentian makan yang ketiga, makanan disajikan prasmanan dengan menu lele goreng, lodeh gudeg (dibilang gudeg tapi bukan, dibilan sayur lodeh tapi menggunakan nangka), sambel, kerupuk, buah-buahan dan teh manis hangat, kalau ingin memesan menu lain (bayar sendiri) juga bisa di rumah makan ini, ada juga yang jualan pernak pernik berbau laut di sekitar rumah makan, berhubung dekat dengan kawasan wisata pantai.

Sampai di rumah mbah sekitar jam setengah 4 sore, agak telat dari jam perkiraan karena lalu lintas yang agak padat di beberapa titik. Mbah udah duduk nunggu di depan sama tongkatnya, hihi.

Nah, pulangnya naik kereta dari Malang, karena sehari sebelumnya sepupu ada yang menggelar pernikahan. Kereta yang kami naiki adalah Mutiara Selatan, tergolong bisnis, meskipun di kereta ini tidak ada penggolongan kelas. Harganya Rp 275.000 per orang. Berangkat pukul 16.20 WIB dan sampai Bandung sekitar jam 10 pagi keesokan harinya. Jika ingin membeli makanan dan minuman bisa memesan ke prama (pramugara kereta api) dan prami (pramugari kereta api) yang pada saat malam dan pagi hari berkeliling menawarkan dan mencatat pesanan, jika mereka sedang tidak berkeliling, kita bisa langsung memesan ke ruang makan atau dapur di salah satu gerbong dalam kereta api.

Jika dibandingkan, kereta  lebih cepat sampai, tidak perlu khawatir dengan kemacetan, tersedia stop kontak untuk tiap kursi, namun kursinya tegak 90 derajat, jika ingin kursi yang lebih nyaman harus memilih kereta kelas eksekutif, lampu tidak dimatikan ketika memasuki jam tidur karena ada penumpang yang akan naik dan turun. Sedangkan bus dapat makan 2x makan gratis dan kursinya lebih nyaman, bisa diatur sandaran punggung dan kakinya, namun hati-hati karna berbahan beludru rentan menjadi sarang binatang kecil, lampu dimatikan atau dinyalakan hanya saja tidak terlalu terang dan stop kontak terbatas. Keduanya memiliki toilet, perbedaannya di kereta toilet jongkok, di bus toilet duduk. Untuk harga relatif, keduanya memiliki fasilitas yang berbeda. Kalau saya pribadi lebih suka naik bus karena kursinya bisa diatur sehingga lebih nyaman, dan langsung turun depan rumah mbah (hehe), jika di kereta saya tidak duduk di dekat jendela, saya tidak bisa tidur (mungkin saya harus membeli tiket eksekutif agar lebih nyaman, atau mungkin ada kereta lain yang kursinya lebih nyaman meski bukan eksekutif, mohon infonya ya). Untuk toiletnya saya lebih suka toilet di kereta karena toilet jongkok lebih bersih. Sekian, semoga bermanfaat, selera dikembalikan kepada masing-masing orang. Terimakasih sudah berkunjung 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s